Gangguan Pendengaran Terhadap Emosi




GANGGUAN PENDENGARAN TERHADAP EMOSI




Disusun oleh :
Adhe Astri
NIM : 15003


Akademi Terapi Wicara - Yayasan Bina Wicara
Jakarta
2015 - 2016










Pengertian Gangguan Pendengaran Terhadap Emosi

Gangguan pendengaran menurut World Health Organization (WHO) adalah, istilah yang sering di gunakan untuk menggambarkan kehilangan pendengaran di satu atau kedua telinga (WHO,2010). Menurut Weber et al. (2009) gangguan pendengaran didefinisikan sebagai pengurangan dalam kemampuan seseorang untuk membedakan suara. Gangguan pendengaran (hearing impairment) berbeda dengan ketulian (deafness) yang berarti kehilangan pendengaran mutlak kemampuan mendengar dari salah satu atau kedua telinga (WHO,2010).
Emosi adalah perasaan intens atau reaksi yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu.
Jadi emosi yang dikeluarkan seseorang yang memiliki gangguan pendengaranpun bisa berupa marah, senang, sedih, kesal, dan sebagainya. Walaupun memiliki keterbatasan dalam pendengaran mereka tetap memiliki emosi yang sama seperti layaknya orang normal.
 
Pembahasan
Klsifikasi Tunarungu :
·         Tunarungu ringan (mild hearing loss)
·         Tunarungu sedang (moderate hearing loss)
·         Tunarungu agak berat (moderately severe loss)
·         Tunarungu berat (severe hearing loss)
·         Tunarungu berat sekali (profound hearing loss)

Seseorang yang memiliki gangguan pendengaran juga bisa berekspresi atau meiliki emosi. Emosi yang dikeluarkan bisa berupa marah, senang, sedih, kesal, dan sebagainya. Walaupun memiliki keterbatasan dalam pendengaran mereka tetap memiliki emosi yang sama seperti layaknya orang normal. Berikut beberapa contoh sifat atau emosi yang berkaitan dengan seseorang yang memiliki gangguan pendengaran.
*      Sifat egosentrisnya lebih besar dari pada anak  yang bisa mendengar. Karena dunia penghayatan mereka sempit, maka anak yang tidak bisa mendengar akan lebih terarah kepada diri sendiri, sehingga mereka sulit menemptkan diri pada pola fikir dan perasaan orang lain, dan kurang menyadari atau peduli efek perilakunya terhadap orang lain. Dalam tindakannya dikuasai perasaan dan pikirannya secara berlebihan, serta sulit untuk menyesuaikan diri.
*      Memiliki sifat impulsive, yaitu merencanakan sesuatu tidak didasarkan pada perencanaan yang jelas dan matang, tanpa mengantisipasi akibat yang mungkin dapat menimbulkan masalah. Jika merekan menginginkan sesuatu harus langsung dipenuhi. Sulit untuk mereka merencanakan atau menundasuatu kebutuhan dalam jangka panjang. Untuk membuat rencana jangka panjang diperlukan kemampuan untuk memikirkan atau membayangkan berbagai hal yang memungkinkan terjadi di masa yang akan datang pada masa kini. Termasuk dalam hal inilah mereka mempunyai kekurangan konsep tentang relasi atau hubungan.

*      Mempunyai sifat kaku, atau kurang luwes dalam memandang dunia dan tugas-tugas. Hal ini disebabkan oleh sempitnya bidang penghayatan dan berfikir sebagai akibat dari ketulian dan kemiskinan berbahasa yang mereka alami. Pikiran dan bahasa mereka terbatas bada hal-hal yang konkret saja. Kesulitan dalam mendapatkan pengertian tentang hubungan sebab akibat baik dalam lingkungan fisik maupun social dan kesulitan dalam memahami alasan atau sebab dari suatu kejadian.
*      Memiliki sifat mudah marah atau tersinggung. Karena kemiskinan bahasa, anak yang tidak dapat mendengar sulit untuk menjelaskan atau mengekspresikan keinginannya dangan baik dan sebaliknya kurang dapat memahami apa yang dikatakan orang lain. Keadaan ini dapat menyebabkan kekecewaan, ketegangan, dan frustasi yang diekspresikan secara aktif dan agresif, terkadang dapat diungkapkan dengan sikap yang malu-malu, ragu-ragu, dan menarik diri. Kedua sikap yang berlawanan ini banyak bergantung dari reaksi orang tua atau pendidik terhadap kemampuan anak. Sehingga dapat membentuk karakter sang anak yang positif ataupun negatif. Jika kita menginginkan anak tuna rrungu dapat berkembang secara bicara dan bahsanya maka kita harus senantiasa berkomunikasi dengan mereka dalam berbagai kesempatan atau keadaan. Yang harus kita lakukan adalah mengembangkan dan melihat terlebih dahulu hal-hal penting yang menjadi dasar untuk berkomunikasi pada anak tuna rungu.


*      Memiliki sifat keterarahwajahan, bagi anak tuna rungu sumber informasi datangnya sebagian besar secara visual atau penglihatan, dan sebagian kecil melalui pendengaran atau auditoris. Keterarahwajahan yang baik merupakan dasar utama untuk membaca ujaran atau untuk menangkap ungkapan orang lain, sehingga anak dapat memahami apa yang dibicarakan orang sekitarnya.
*      Sikap keterarahsuaraan, adalah sikap untuk selalu memperhatikan suara atau bunyi yang terjadi di sekelilingnya dan perlu dikembangkan pada anak tuna rungu agar sisa pendengaran yang masih dimilikinya dapat dimanfaatkan guena memperlancar interaksinya dengan lingkungan diluar dirinya.
*      Memiliki sifat tanggap terhadap apa yang ingin dikatakan anak, pada saat bermain atau melakukan kegiatan tentu banyak yang ingin diungkaokan anak, namun karena tidak mempunyai bahasa maka anak menggunakan dirinya seperti gerak-gerik tingkah laku, seuara bermakna, senyuman, tangisan, mimik, isyarat tangan dan kata-kata yang jelas. Apabila situasi tertentu anak tuna rungu menggunakan salah satu bentuk ungkapan seperti diatas, maka sebaiknya kita segera tanggap apa yang diamatinya lalu kita mencoba menghubungkan dengan apa yang ingin dia katakana sehingga kita dapat membahasnya dengan tepat.



Karakteristik emosi dan sosialnya anak yang memiliki gangguan pendengaran, meliputi :
*      Suka menafsirkan secara negative,
*      Kurang mampu dalam mengendalikan emosinya dan sering emosinya bergejolak,
*      Memiliki perasaan rendah diri dan merasa diasingkan,
*      Memiliki rasa cemburu dan prasangka karena tidak diperlakukan dengan adil serta sulit untuk bergaul dengan lingkungan sekitar.
Gangguan emosi dapat menyebabkan terjadinya kelainan komunikasi. Ketidak seimbangan antara penguasa perbendaharaan kata-kata dengan isi pikiran dan perasaan yang ingin diekspresikan oleh anak prasekolah misalnya, dapat meimbulkan luapan emosi yang pada gilirannya menimbulkan stuttering. Stuttering yang disebabkan oleh faktor emosional dapat disembuhkan setelah faktor yang menimbulkan luapan emosi dihilangkan. Tetapi, stuttering yang disebabkan oleh adanya gangguan fungsi saraf sering tidak berkaitan dengan faktor emosi.
Keluarga yang menggunakan dua bahasa dalam percakapan sehari-hari sering menyebabkan anak mengalami kebingungan sehingga pada gilirannya dapat menyebabkan gangguan komunikasi. Tiap bahasa memiliki sistem fonologi, morfologi, dan sintaksis. Akibatnya anak akan mengalami kesulitan dalam penggunaan bentuk dua bahasa tersebut yang pada gilirannya dapat menimbulkan gangguan komunikasi.
Lingkungan sosial erat kaitannya dengan perkembangan bahasa anak. Lingkungan sosial yang kurang atau tidak memberikan kesempatan yang cukup kepada anak untuk menjalin komunikasi melalui bahasa verbal dapat menyebabkan timbulnya gangguan komunikasi.

Kasus 
Mas Ariani seorang siswi kelas 9 SLB-B Bekasi. Ia putri ketiga dari pasangan Komang Praman dan Komang Ayuni yang beralamat di Desa Ularan – Seririt. Menurut penuturan pembimbingnya Mas Ariani merupakan siswi yang mengalami tuli dan bisu sejak lahir atau biasa disebut tunarungu .Tunarungu yang dialami Mas Ariani tergolong tunarungu berat. Emosinya sering kali tak terkontrol apabila melihat ekspresi lawan bicara tidak seperti yang ia harapkan. Mas Ariani sering marah ketika kita lama merespon keinginannya.

SIMPULAN

Klsifikasi Tunarungu :
·         Tunarungu ringan (mild hearing loss)
·         Tunarungu sedang (moderate hearing loss)
·         Tunarungu agak berat (moderately severe loss)
·         Tunarungu berat (severe hearing loss)
·         Tunarungu berat sekali (profound hearing loss)


Anak yang mengalami gangguan pendengaran cendrung lebih besar sifat egosentrisnya, lebih implusive, kaku, dan mudah tersinggung. Karakteristik emosi dan sosialnya anak yang memiliki gangguan pendengaran, meliputi :
·         Suka menafsirkan secara negative,
·         Kurang mampu dalam mengendalikan emosinya dan sering emosinya bergejolak,
·         Memiliki perasaan rendah diri dan merasa diasingkan,
·         Memiliki rasa cemburu dan prasangka karena tidak diperlakukan dengan adil serta sulit untuk bergaul dengan lingkungan sekitar.
Gangguan emosi dapat menyebabkan terjadinya kelainan komunikasi. Ketidak seimbangan antara penguasa perbendaharaan kata-kata dengan isi pikiran dan perasaan yang ingin diekspresikan oleh anak prasekolah misalnya, dapat meimbulkan luapan emosi yang pada gilirannya menimbulkan stuttering. Stuttering yang disebabkan oleh faktor emosional dapat disembuhkan setelah faktor yang menimbulkan luapan emosi dihilangkan. Tetapi, stuttering yang disebabkan oleh adanya gangguan fungsi saraf sering tidak berkaitan dengan faktor emosi.


DAFTAR PUSTAKA

·         Somad Permanarian.DRA dan DRA. Tati Herniawati.1996. Ortopedagogik Anak Tunarungu.Jakarta : Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Guru
·         Mulyono Abburachman.Dr dan Drs. Sudjadi S. Pendidikan Luar Biasa Umum. Jakarta . Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Akademik


 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Definisi Dislogia

Definisi dan Kakteristik Disaudia